Pengen Ngerti Aku
- @gus $ulistiono
- Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
- Saya adalah seorang karyawan yang sedang mencari sesuap nasi.
Jumat, 29 Januari 2010
Biografi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
[Profile in English]
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono adalah Presiden RI ke enam dan Presiden pertama yang dipilih langsung oleh Rakyat Indonesia. Bersama Drs. M. Jusuf Kalla sebagai wakil presidennya, beliau terpilih dalam pemilihan presiden di 2004 dengan mengusung agenda "Indonesia yang lebih Adil, Damai, Sejahtera dan Demokratis", mengungguli Presiden Megawati Soekarnoputri dengan 60% suara pemilih. Pada 20 Oktober 2004 Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik beliau menjadi Presiden.
Presiden SBY, seperti banyak rakyat memanggilnya, lahir pada 9 September 1949 di Pacitan, Jawa Timur. Seorang ilmuwan teruji, beliau meraih gelar Master in Management dari Webster University, Amerika Serikat tahun 1991. Lanjutan studinya berlangsung di Institut Pertanian Bogor, dan di 2004 meraih Doktor Ekonomi Pertanian.. Pada 2005, beliau memperoleh anugerah dua Doctor Honoris Causa, masing-masing dari almamaternya Webster University untuk ilmu hukum, dan dari Thammasat University di Thailand ilmu politik.
Susilo Bambang Yudhoyono meraih lulusan terbaik AKABRI Darat tahun 1973, dan terus mengabdi sebagai perwira TNI sepanjang 27 tahun. Beliau meraih pangkat Jenderal TNI pada tahun 2000. Sepanjang masa itu, beliau mengikuti serangkaian pendidikan dan pelatihan di Indonesia dan luar negeri, antara lain Seskoad dimana pernah pula menjadi dosen, serta Command and General Staff College di Amerika Serikat. Dalam tugas militernya, beliau menjadi komandan pasukan dan teritorial, perwira staf, pelatih dan dosen, baik di daerah operasi maupun markas besar. Penugasan itu diantaranya, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad, Panglima Kodam II Sriwijaya dan Kepala Staf Teritorial TNI.
Selain di dalam negeri, beliau juga bertugas pada misi-misi luar negeri, seperti ketika menjadi Commander of United Nations Military Observers dan Komandan Kontingen Indonesia di Bosnia Herzegovina pada 1995-1996.
Setelah mengabdi sebagai perwira TNI selama 27 tahun, beliau mengalami percepatan masa pensiun maju 5 tahun ketika menjabat Menteri di tahun 2000. Atas pengabdiannya, beliau menerima 24 tanda kehormatan dan bintang jasa, diantaranya Satya Lencana PBB UNPKF, Bintang Dharma dan Bintang Maha Putra Adipurna. Atas jasa-jasanya yang melebihi panggilan tugas, beliau menerima bintang jasa tertinggi di Indonesia, Bintang Republik Indonesia Adipurna.
Sebelum dipilih rakyat dalam pemilihan presiden langsung, Presiden Yudhoyono melaksanakan banyak tugas-tugas pemerintahan, termasuk sebagai Menteri Pertambangan dan Energi serta Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan pada Kabinet Persatuan Nasional di jaman Presiden Abdurrahman Wahid. Beliau juga bertugas sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan dalam Kabinet Gotong-Royong di masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada saat bertugas sebagai Menteri Koordinator inilah beliau dikenal luas di dunia internasional karena memimpin upaya-upaya Indonesia memerangi terorisme.
Presiden Yudhoyono juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi masyarakat sipil. Beliau pernah menjabat sebagai Co-Chairman of the Governing Board of the Partnership for the Governance Reform, suatu upaya bersama Indonesia dan organisasi-organisasi internasional untuk meningkatkan tata kepemerintahan di Indonesia. Beliau adalah juga Ketua Dewan Pembina di Brighten Institute, sebuah lembaga kajian tentang teori dan praktik kebijakan pembangunan nasional.
Presiden Yudhoyono adalah seorang penggemar baca dengan koleksi belasan ribu buku, dan telah menulis sejumlah buku dan artikel seperti: Transforming Indonesia: Selected International Speeches (2005), Peace deal with Aceh is just a beginning (2005), The Making of a Hero (2005), Revitalization of the Indonesian Economy: Business, Politics and Good Governance (2002), dan Coping with the Crisis - Securing the Reform (1999). Ada pula Taman Kehidupan, sebuah antologi yang ditulisnya pada 2004. Presiden Yudhoyono adalah penutur fasih bahasa Inggris.
Presiden Yudhoyono adalah seorang Muslim yang taat. Beliau menikah dengan Ibu Ani Herrawati dan mereka dikaruniai dengan dua anak lelaki. Pertama adalah Letnan Satu Agus Harimurti Yudhoyono, lulusan terbaik Akademi Militer tahun 2000 yang sekarang bertugas di satuan elit Batalyon Lintas Udara 305 Kostrad. Putra kedua, Edhie Baskoro Yudhoyono, mendapat gelar bidang Ekonomi dari Curtin University, Australia.
8 Februari 2006
Profil Presiden
Kabinet Indonesia Bersatu
Link Indonesia
English Content
Konsep Istilah Orde Lama
Orde Lama adalah istilah yang diciptakan oleh Orde Baru. Bung Karno sangat keberatan masa kepemimpinannya dinamai Orde Lama. BK lebih suka dengan nama Orde Revolusi. Tapi BK tak berkutik karena menjadi tahanan rumah (oleh pemerintahan militer Orde Baru) di Wisma Yaso (sekarang jadi Museum TNI Satria Mandala Jl. Gatot Subroto Jakarta).
Karena pertanyaan anda spektrumnya sangat luas; saya akan membatasi pada masalah pemanfaatan kekayaan alam.
Konsep BK tentang kekayaan alam sangat jelas. Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah dia tetap berada di dalam perut bumi Indonesia. Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan anak cucu kita di masa depan. Biarlah anak cucu kita yang menikmati jika mereka sudah mampu dan bisa. Jadi saat dipimpin BK, meski RI hidup miskin, tapi BK tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambang-tambang milik bangsa ke perusahaan asing. Penebangan hutan pada masa BK juga amat minim.
Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan BK. Ibarat rumah tangga zaman Orba adalah masa kemaruk. Apa yang bisa digadaikan; digadaikan. Kalo bisa ngutang ya ngutang. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah. Rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba. Beras murah, padahal sebagian adalah beras impor. Beberapa gelintir orang mendapat rente ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi bahan pokok, termasuk beras, terigu, kedelai dsb. Semua serba tertutup dan tidak tranparan. Jika ada orang mempertanyakan, diancam tuduhan subversif. Hutan dijadikan sumber duit, dibagi menjadi kapling-kapling HPH; dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan. Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN. Jangan dilupakan pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke Rp 16.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru.
Masa Reformasi adalah masa cuci piring. Pesta sudah usai. Krisis ekonomi parah sudah terjadi. Utang LN tetap harus dibayar. Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan, meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan wujudnya.. Rakyat menikmati demokrasi dan kebebasan. Media masa menjadi terbuka.
Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme kenikmatan duniawi di zaman Orba.Sekarang kita mewarisi hutan yang sudah rusak parah; industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana akibat dari berbagai HPH , menjadi muara dari illegal logging.
Orang-orang berteriak zaman reformasi sulit, tapi nyatanya hampir tiap rumah di Indonesia sekarang punya sepeda motor. Hal yang mustahil pada masa Orba. Jadi kesimpulannya Orde Reformasi adalah fase terbaik dari bangsa Indonesia. Kita sedang berproses menjadi negara yang besar dan kuat. Kepemimpinan SBY sudah berada di rel yang benar menuju ke sana.
Catatan: Bung Karno meski ada hubungan darah tapi kepemimpinannya tidak sama dengan Ibu Megawati. BK lebih mirip Hugo Chavez, Evo Morales, atau Ahmadinejjad. BK adalah pemimpin yang bisa menumbuhkan martabat dan harga diri bangsanya. Sisi negatifnya, BK banyak dimusuhi negara lain.
Dilematis Kebijakan Harga Beras di tingkat Petani
B. Suhardi, Dosen UNS
Sutrisno, Peneliti Kan. Litbang Pati
Stabilnya ketersediaan bahan pangan atau banyak diklaim sebagai ketahanan pangan saat ini, ternyata masih banyak menyisakan berbagai persoalan mendasar. Kelangsungan ketersediaan, kesejahteraan petani, hingga menyempitnya lahan garapan masih menjadi masalah yang juga memunculkan kembali kerawanan bahan pangan.
Tahun 1984 barangkali merupakan tahun kejayaan produksi pangan Indonesia karena pada tahun tersebut negeri ini bisa swasembada beras. Namun, harga yang ditanggung oleh swasembada tersebut ternyata tidak sedikit. Subsidi yang demikian besar ke bidang pertanian memang tidak bisa terus menerus dilakukan.
Akibat yang terjadi, perlahan tapi pasti, produksi pertanian menurun ketika subsidi pelan-pelan dikurangi. Ketersediaan pangan yang semakin berkurang mengharuskan Indonesia kembali tergantung pada impor. Meskipun saat ini pemenuhan kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri masih mencukupi, namun labilnya suplai akibat musim yang tidak menentu tetap menjadi indikator ketidak pastian.
Ketidak pastian akan ketersediaan bahan pangan produk dalam negeri, sering kali menimbulkan kekhawatiran. Kelangsungan ketersediaan hasil pertanian menjadi sangat penting karena menyangkut kebutuhan pokok sehari-hari seluruh rakyar negeri ini. Ketersediaan beras, gula, jagung, kedelai, buah, sayur-sayuran, hingga produk perkebunan tidak hanya menyangkut persoalan ekonomi, tetapi berdimensi lebih luas.
Hal itu karena sektor pertanian pada kenyataannya masih menjadi gantungan hidup sebagian besar rumah tangga di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan. Jumlah rumah tangga pertanian meliputi hampir 24,9 juta dari total 53,1 juta rumah tangga pedesaan yang disensus Badan Pusat Statistik tahun 2004. Ini berarti, terguncangnya pengelolaan nasional sektor pertanian bisa berimbas pula terhadap ketersediaan lapangan kerja dan rawan pangan yang luas.
Sekitar 60 persen responden dalam jajak pendapat Kompas menyatakan bahwa ketersediaan bahan pangan dalam negeri masih dalam kondisi memadai dan hanya sekitar 36 persen yang menyatakan sebaliknya. Ketersediaan bahan pangan yang terdiri dari produk dalam negeri dan impor itu dipandang makin mudah didapat meskipun dengan harga barang yang bervariasi.
Persoalan Impor Beras
Persoalan yang juga dikhawatirkan masyarakat adalah kebijakan pemerintah dalam soal pangan. Kebijakan pemerintah yang membuka regulasi impor dengan cukup longgar, antara lain dengan bea masuk rendah, dikhawatirkan akan memukul sekaligus petani dan masyarakat konsumen.
Sifat ketergantungan pada produk impor pertanian dikhawatirkan ujung-ujungnya akan menyebabkan ketergantungan harga pada produsen luar negeri, yang dampaknya bisa semakin menjauhkan kemampuan masyarakat bawah memperoleh bahan pangan. Tidak heran, terhadap longgarnya kebijakan impor pangan dari luar negeri, ternyata tiga perempat responden menyatakan tidak setuju (Suhardi dan Sutrisno, 2005).
Meskipun kebutuhan nasional tercukupi, tampaknya nasib petani tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Keseriusan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang meningkatkan taraf hidup petani secara berarti masih banyak dipertanyakan. Dukungan kebijakan yang antara lain berupa pemberdayaan petani dinilai sebagian besar responden jajak pendapat semakin berkurang.
Sebanyak 57 persen responden jajak pendapat menyatakan tidak puas dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kemampuan pengelolahan petani. Pemberian penyuluhan, bantuan kredit lunak petani, maupun bentuk kemudahan lain sudah lama berkurang. Petani lebih banyak berupaya dengan kemampuan sendiri dan secara individual. Kondisi serupa ditengarai tidak hanya menimpa petani sawah, tetapi juga petani perkebunan, holtikultura, dan peternakan.
Berkurangnya lahan garapan untuk budidaya tanaman pertanian menjadi ancaman serius Data sensus pertanian BPS pada akhir tahun 2004 meunjukkan, perubahan luas lahan sawah menjadi lahan nonsawah (permukiman, industri, dan sebagainya) mencapai 5 persen lebih. Dari 12,4 juta hektar lahan sawah, yang dikonversi menjadi lahan nonsawah sebanyak 676.000 hektar. Meskipun secara absolut jumlah rumah tangga pertanian meningkat, mereka akhirnya menerima kenyataan menjadi petani gurem yang menguasai lahan pertanian di bawah 0,5 hektar. Di wilayah Jawa Timur sebagai sentra rumah tangga petani, misalnya petani gurem mencapai 3,4 juta rumah tangga atau sekitar 25 persen dari jumlah nasional.
Sektor Pertanian dan Para Pelakunya
Secara sektoral, sektor pertanian terdiri dari sub sektor pertanian tanaman pangan, sub sektor perkebunan, sub sektor peternakan, sub sektor perikanan, dan sub sektor kehutanan. Pada awal rezim orde baru, kelima sub sektor tersebut bersatu dalam satu departemen, yaitu Departemen Pertanian. Kemudian sub sektor perkebunan dipisah menjadi departemen tersendiri. Begitu pula dengan sub sektor perhutanan yang menjadi Departemen Kehutanan dan subsektor perikanan menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan.
Sementara itu, pengolahan hasil pertanian dan manufaktur sarana dan alat perlengkapan produksi pertanian sejak semula termasuk dalam sektor industri dan tergabung dalam Departemen Perindustrian. Namun, secara sistem, sub sektor industri pertanian atau agro industri termasuk dalam cakupan agribisnis.
Dalam pengertian ini, agribisnis lebih merupakan suatu sistem, di mana agro industri, baik industri hilir (pengolahan hasil pertanian) maupun industri hulu (manufaktur sarana dan alat perlengkapan pertanian) merupakan salah satu sub sistem dari agribisnis, satu sistem pertanian dalam arti luas (Adiratma, 1995)
Dalam kegiatan ekonomi, lingkup agribisnis termasuk dalam ketiga bidang ekonomi, yaitu (1) keseluruhan pertanian dalam arti luas, termasuk perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, dan tanaman pangan tercakup dalam industri primer; (2) agro industri, baik industri hulu maupun hilir, termasuk dalam kelompok industri sekunder, (3) bidang jasa, pemasaran, perbankan, komunikasi, dan jasa penunjang lainnya, termasuk dalam industri tersier. Dengan demikian, agribisnis mengandung dua sifat, yaitu agribisnis sebagai suatu kegiatan bisnis dan sebagai suatu cara pandang terhadap pertanian dengan pendekatan komprehensif, yang memandang pertanian sebagai suatu sistem yang terkait dengan sektor lain dalam suatu arus komoditas.
Dalam menunjang pengembangan agribisnis sebagai suatu sistem, terdapat faktor-faktor dari luar yang berpengaruh terhadap pengembangan agribisnis yang terdiri dari faktor agroklimatologi, sosial, ekonomi, teknologi, dan kebijakan pemerintah.
Persoalan Perberasan di Era Otonomi Daerah
Di tengah polemik mengenai kebijakan pangan nasional, khususnya yang berkenaan dengan persoalan beras, ada satu pertanyaan: dimana dan apa peran pemerintah daerah dalam rangka menjalankan otonominya?. Pertanyaan ini wajar dimunculkan karena secara teknis beras merupakan produk sektor pertanian yang merupakan salah satu bidang kewenangan pemerintah daerah. Dari sudut pandang ini maka pemerintah daerah secara proaktif harus berperan dalam menangani persoalan perberasan yang terjadi di daerahnya. Masalahnya, dalam aspek apa saja pemerintah daerah seharusnya dapat berperan? Pemilahan persoalan diperlukan karena pada kenyataannya persoalan beras tidak saja terbatas pada persoalan teknis produksi belaka. Di dalamnya menyangkut aspek yang lebih luas, karena komoditi beras bukan sekedar sebagai komoditi ekonomi, tetapi juga merupakan komoditi sosial politis yang bisa menimbulkan aksi emosional. Akibatnya, meskipun kewenangan sektor pertanian telah didesentralisasikan ke daerah, peran pemerintah daerah dalam hal perberasan terasa masih kecil. Pemerintah pusat masih terus memainkan peran yang dominan dan menentukan.
Di era otonomi daerah sekarang, manajemen sistem kebijakan perberasan dalam pelaksanaannya terbagi menjadi dua. Pertama, manajemen sistem kebijakan perberasan yang berkaitan dengan penanganan pasca panen dan kebijakan makro lainnya yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Penetapan mengenai harga dasar gabah, tarif impor, penyediaan kredit, peran Bulog, Raskin, dan subsidi pupuk, merupakan contoh unsur-unsur kebijakan perberasan yang sangat penting, yang ditentukan oleh pemerintah pusat. Dalam aspek-aspek kebijakan ini dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah nyaris tidak diberikan peran apa pun. Tidak saja dalam perumusan kebijakan, bahkan dalam polemik mengenai isu kebijakan perberasan nasional (pasar bebas versus proteksionisme), suara daerah nyaris tak terdengar. Tampaknya beras masih dan akan tetap menjadi komoditi yang menjadi urusan pemerintah pusat.
Kedua, sistem kebijakan yang menyangkut aspek penyediaan sarana dan prasarana usahatani. Sesuai dengan kewenangan otonom yang dipunyainya, pelaksanaan aspek kebijakan ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Kondisi riil yang terjadi di lapangan umumnya menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum berhasil menjalankan perannya yang berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana usahatani. Jaringan irigasi, misalnya kondisinya bukan bertambah baik tetapi justru sebaliknya. Demikian pula kondisi jalan-jalan kolektor usahatani di pedesaan. Untuk menangani prasarana yang sangat penting bagi produksi beras tersebut sepertinya tidak ada lagi instansi pemerintah yang bertanggung jawab penuh mengelolanya. Untuk menggambarkan kondisi pembangunan yang terjadi sekarang, kelompok masyarakat di sebuah desa di Lombok Barat misalnya, menyatakan bahwa di era otonomi daerah sekarang, pembangunan justru menjadi lambat.
Aspek lain manajemen usahatani yang juga tidak ditangani dengan baik oleh pemerintah daerah adalah menyangkut soal penyuluhan pertanian. Alokasi anggaran biaya untuk penyuluhan dan pendampingan tidak tersedia atau jumlahnya sangat sedikit, sehingga mempengaruhi kinerja pembangunan pertanian di lapangan. Hal ini bisa terjadi karena sekarang para petani tidak lagi mempunyai akses atau sulit mendapatkan pendamping untuk berkonsultasi, termasuk memperoleh informasi pasar dan teknologi.
Persoalan lain yang mengemuka seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah adalah kembali maraknya praktek pungutan perdagangan antar daerah, termasuk komoditi pangan (beras dan jagung) yang menimbulkan persoalan inefisiensi. Jika persoalan ini dibiarkan berlarut-larut, ditambah dengan makin memburuknya kondisi prasarana usahatani, maka dalam jangka panjang hal-hal demikian, dari sisi produksi dan distribusi, dapat menimbulkan dampak negatif terhadap aspek ketahanan pangan nasional.
Kebijakan Tarif Impor Beras Indonesia
Di Indonesia, harga beras dan kebutuhan untuk melindungi industri beras dalam negeri telah menjadi isu yang kontroversial selama beberapa tahun belakangan ini. Di tengah berlangsungnya kontroversi ini, muncul dua pendapat yang berlawanan mengenai perlunya pengenaan tarif pada beras impor. Pendapat pertama mendukung kebijakan tarif dan harga beras yang tinggi karena harga yang lebih tinggi diasosiasikan dengan pendapatan yang lebih tinggi bagi petani beras. Pendapat kedua menganggap bahwa melindungi industri beras dalam negeri memiliki dampak negatif terhadap kelompok miskin yang merupakan net consumer atau konsumen netto dari beras.
Argumen-argumen yang mendukung kenaikan tarif beras berfokus pada nilai politis dari swasembada beras, isu-isu perdagangan global, serta peranan beras sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat miskin pedesaan. Argumen-argumen tersebut antara lain adalah: (1) Tarif akan membantu Indonesia dalam mencapai swasembada beras, walaupun telah berhasil mempertahankan swasembada beras dari tahun 1984 hingga 1996, di saat puncak krisis ekonomi pada 1998, impor beras Indonesia mencapai 21,7% dari total impor beras dunia. Karena keterbatasan dan ketidakstabilan pasar beras internasional (dari beras yang diproduksi dunia, hanya 4% yang diperdagangkan secara internasional), harga beras bisa berfluktuasi dengan cepat dan pembeli besar bisa menyebabkan harga beras naik secara tajam. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu kembali memfokuskan kebijakan pertaniannya pada swasembada beras. Tarif dianggap akan membantu pencapaian sasaran ini, karena harga yang tinggi akan menjadi insentif bagi peningkatan produktivitas beras domestik dalam jangka panjang. (2) Pasar domestik harus dijaga dari kompetisi yang tidak “fair” dan “dumping”. Pemerintah di seluruh dunia mensubsidi dan melindungi industri beras domestik mereka. Oleh karena itu, tarif beras di Indonesia perlu dinaikkan untuk melindungi produsen beras dalam negeri dari beras murah yang “dibuang” di pasar dunia. (3) Penghasilan petani akan meningkat, para pendukung kenaikan tarif menekankan pentingnya penghasilan dari produksi beras bagi ekonomi pedesaan. Kenaikan harga beras dalam negeri akan meningkatkan penghasilan petani pedesaan yang dianggap termasuk kelompok miskin. (4) Industri beras harus digunakan sebagai mesin pertumbuhan bagi wilayah pedesaan. Dari pendapat diatas, diyakini bahwa peningkatan penghasilan di sektor penghasil beras akan menyediakan insentif tambahan bagi para petani, menciptakan lapangan pekerjaan tambahan dan meningkatkan upah. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan produksi beras di seluruh Indoensia. Pendukung argumen ini percaya bahwa peningkatan produksi beras akan meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja tidak terdidik, karena sektor beras dianggap mampu menyerap tenaga kerja tidak terdidik dalam jumlah yang besar. Hal ini akan memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan upah buruh tani.
Sementara itu, ada sejumlah pendapat berbeda yang diajukan untuk menentang kenaikan tarif beras di Indonesia. Argumen-argumen yang didasarkan pada alasan ekonomi tersebut mencakup: (1) Kenaikan harga beras akan berdampak negatif terhadap kelompok miskin, harga beras yang tinggi telah menjadi beban yang berat bagi konsumen dan merupakan penyebab utama dari peningkatan kemiskinan pada tahun-tahun belakangan ini. Pendukung pendapat ini meyakini bahwa di antara kelompok miskin ada lebih banyak konsumen beras netto daripada produsen netto, sehingga kelompok miskin akan semakin menderita karena kenaikan harga beras. Selain itu, perlu diingat bahwa konsumsi beras tidak elastis terhadap harga beras. Sekalipun terjadi kenaikan harga beras, konsumsi beras per kapita antara 1990 dan 2000 relatif tetap stabil. Kelompok miskin akan berusaha mempertahankan konsumsi beras mereka, tetapi mengurangi konsumsi makanan lainnya seperti lauk pauk, dan sayuran. (2) Dalam jangka panjang industri beras cenderung turun dan kebijakan tarif akan mengganggu alokasi sumber daya. Harga yang kompetitif akan meningkatkan efisiensi baik dalam produksi maupun dalam alokasi sumber daya. Kebijakan tarif akan mengganggu alokasi sumber daya dengan menjauhkan sumber daya dari sektor-sektor yang menjadi keunggulan komparatif dari suatu negara. Menaikkan tarif akan secara artificial meningkatkan hasil dari beras dan memberikan insentif bagi petani untuk memproduksi beras, sementara membiarkan harga beras ditentukan oleh pasar akan menciptakan insentif bagi petani untuk melakukan diversifikasi dengan menanam tanaman pangan yang lebih menguntungkan, seperti kedelai dan berbagai tanaman perkebunan lainnya. (3) Harga beras bukanlah faktor yang signifikan terhadap kemiskinan petani. Menurut beberapa pengamat, terbatasnya kepemilikan tanah pedesaan diyakini merupakan penyebab utama kemiskinan di sektor pertanian. Rata-rata luas tanah yang dimiliki petani sangat sempit sehingga bahkan teknologi pertanian yang terbaru pun tetap tidak bisa meningkatkan produksi agar petani bisa keluar dari kemiskinan. Sebagai ilustrasi, rata-rata luas pemilikan lahan pertanian di Jawa adalah ekitar 0,58 hektar pada tahun 1983, dan menurun menjadi sekitar 0,47 hektar pada tahun 1993. Oleh karena itu, suatu kebijakan harga beras dengan mengenakan tarif dianggap tidak relevan dalam konteks memerangi kemiskinan di sektor beras Indonesia. (4) Harga beras domestik sudah lebih tinggi dibandingkan harga beras di pasar internasional. Pada Januari 2002, beras kelas menengah Thailand misalnya, diperdagangkan di pasar dunia dengan harga antara Rp 1.737 dan Rp 1.804 per kg (f.o.b). Sesudah memperhitungkan biaya pengiriman, margin harga dan tarif impor sebesar Rp 430 per kg, beras Thailand ini dijual di Indoensia dengan harga antara Rp 2.612 dan Rp 2.686 per kg. Data nasional menunjukkan bahwa beras domestik dengan kualitas yang setara dijual rata-rata Rp 2.978 per kg, sementara di Jakarta beras ini dijual Rp 3.232 per kg. (5) Tarif yang lebih mahal akan mendorong penyelundupan dan korupsi, perbedaan antara harga beras domestik dan internasional serta pembatasan impor beras telah menjadi penyebab utama dari penyelundupan beras. Untuk mempertahankan tingkat keuntungan, sebagian pedagang cenderung menyelundupkan beras ke dalam negeri atau menyuap petugas ketimbang mentaati ketentuan tarif. Akibatnya, sekalipun kebijakan tarif masih berlaku, beras impor dengan harga murah akan tetap dapat ditemui di pasar dalam negeri.
Komoditi Penting
Beras merupakan komoditi yang sangat penting di Indonesia karena sebagian besar penduduk Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Meskipun upaya diversifikasi pangan telah lama digalakkan tetapi hingga saat ini belum ada bahan pangan lain yang dapat menggantikan beras, sehingga kebutuhan beras di Indoensia akan selalu tinggi. Akibatnya, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan beras di Indonesia akan terus meningkat.
Karena merupakan kebutuhan pokok utama, beras merupakan komoditi yang relatif tidak terlalu sensitive terhadap perubahan harga. Meskipun terjadi perubahan yang cukup besar pada harga beras permintaan terhadap beras tidak akan berubah banyak karena setiap orang akan berusaha mempertahankan kuantitas beras yang dikonsumsi. Konsumsi beras juga relatif tidak sensitive terhadap pendapatan. Peningkatan pendapatan seseorang tidak akan meningkatkan kuantitas beras yang dikonsumsi. Dengan demikian, proporsi pengeluaran untuk beras cenderung berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan seseorang. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang, proporsi pengeluaran untuk beras cenderung semakin kecil, dan sebaliknya.
Kecenderungan terakhir di Indonesia menunjukkan bahwa mekanisme pasar telah bekerja dengan baik dalam menstabilkan harga beras di pasar domestik. Fenomena harga beras menunjukkan bahwa proses deregulasi tidaklah mudah dijalankan, baik secara ekonomi atau politik. Pelbagai keputusan politis (atau tidak didasarkan pada penelitian di lapangan) yang diambil pemerintah telah menyebabkan kebijakan dalam perberasan ini kehilangan rasionalitas. Liberalisasi sektor perdagangan yang dilakukan di Vietnam telah meningkatkan produksi negera tersebut sehingga menambah penawaran beras di pasar dunia. Pada saat yang sama beberapa negara konsumen (sekaligus produsen) utama seperti Thailand telah mencapai kejenuhan dalam konsumsi beras yang mengakibatkan konsumsi per kapita di sana pun mengalami penurunan, dan pada akhirnya mengurangi permintaan dunia.
Perpolitikan kebijakan beras makin terasa pula dari pernyataan para politisi dan birokrat yang terlibat dalam perberasan. Untuk menghindari impor beras, Bulog mengusulkan hambatan bukan tarif dan menolak tawaran beras dari pemerintah AS melalui PL480 (program bantuan pangan dari pemerintah AS). Tetapi dalam kenyataannya Bulog tetap melakukan impor dengan melakukan kontrak pengadaan beras dengan Vietnam, Thailand dan India. Jika ancaman kelangkaan beras benar adanya, tentunya bukan hambatan bukan tarif yang harus diperkuat, tetapi justru tarif yang berlaku sekarang yang harus diturunkan sebesar 30%. Jika harga beras di pasar dunia meningkat hingga US$230 per ton dan tarif dipertahankan sebesar 30% barulah harga beras domestik menyamai harga pasar dunia. Artinya, tanpa ribut-ribut dengan sistem yang sekarang dan tanpa ada intervensi dari Bulog (serta tidak membebankan APBN) pasokan beras dalam negeri akan terjamin melalui importir umum. Yang menarik pula keterlambatan panen yang terjadi dewasa ini tidak direspon dengan lonjakan harga seperti yang terjadi pada saat rezim Soeharto. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme pasar telah bekerja dengan baik dalam menstabilkan harga beras di pasar domestik.
Dari sisi perspektif ekonomipun, terdapat dua pendapat yang berbeda dalam memandang kebijakan harga beras. Kelompok pertama, kelompok yang ingin mempertahankan kebijakan harga beras dengan premium tertentu di atas harga internasional. Kelompok ini beranggapan bahwa harga beras dunia dibentuk oleh pelbagai distorsi, baik disisi permintaan maupun penawaran. Di sisi permintaan, tingginya tarif menyebabkan beras kalah bersaing dengan jenis sereal yang lain. Di sisi penawaran, subsisidi yang diberikan negera maju telah menyebabkan harga beras di pasar dunia jatuh. Pasar beras dunia memang telah berubah. Pada tahun 1980-an hanya 16 – 18 juta ton saja yang diperdagangkan tetapi sekarang lebih dari 25 juta ton beras diperdagangkan di pasar internasional. Walaupun demikian volume perdagangan beras masih relatif sedikit dan tersegmentasi. Misalnya beras long grain dari AS atau Basmati dari Pakistan umumnya ditujukan untuk pasar Timur Tengah yang harganya lebih mahal. Sementara beras untuk pasar Indonesia umumnya berasal dari Indochina, termasuk Thailand. Tidak mengherankan jika kemudian keputusan Indonesia untuk mengimpor beras akan langsung mempengaruhi harga dunia. Pada saat Bulog memegang monopoli impor, setiap 1 ton impor Indoensia akan menaikkan harga beras di pasar dunia hingga US$ 50 per ton. Tetapi sejak monopoli impor beras dihapuskan bersamaan dengan ekspansi pasar beras internasional (dari 16 juta ton per tahun menjadi 25 juta ton per tahun), pengaruh keputusan impor dari Indonesia menurun lebih dari separuhnya, yaitu harga dunia naik sebesar US$ 10 – 20 per ton untuk setiap ton impor beras Indonesia.
Lebih jauh lagi kelompok pertama ini menganggap beras adalah komoditi publik yang mengandung eksternal yang positif, terutama dari sisi produksi. Dampak multiplier ke depan (forward linkages) dari beras baik dalam penciptaan nilai tambah maupun tenaga kerja, walaupun kecenderungannya menurun, sudah sesuai dengan proses perubahan struktural. Padi beserta industri penggilingan padi mempunyai koefisien multiplier tertinggi di antara semua klasifikasi jenis kegiatan ekonomi berdasarkan klasifikasi Tabel Input Output. Karena peranannya yang dominan, kelompok ini beranggapan bahwa beras adalah ‘wage good’, artinya sokongan harga dasar gabah akan ikut meningkatkan kegiatan ekonomi pedesaan, termasuk upah buruh tani.
Argumen ini dibantah oleh kelompok kedua. Benar bahwa beras berperan dalam proses penurunan kemiskinan di daerah pedesaan, tetapi kebijakan ini hanya benar pada tahun 1970an hingga awal 1980an. Dewasa ini argumen ini tampaknya kurang valid. Menurut kelompok ini penurunan harga beras mengikuti harga internasional akan menguntungkan orang miskin. Argumen kelompok ini didukung oleh fakta bahwa: (1) kenaikan harga beras sebesar 10% akan menyebabkan lebih 2 juta orang miskin baru tercipta dengan kira-kira 1,1 juta diantaranya di daerah pedesaan, (2) kenaikan harga beras juga memberikan dampak distribusi pendapatan yang kurang menguntungkan karena menyebabkan transfer pendapatan dari konsumen miskin di kota (baik di Jawa maupun di luar Jawa) kepada (petani) pemilik tanah di atas satu ha di pedesaan Jawa. Lebih jauh lagi, anekdot menunjukkan bahwa sebagian kepemilikan tanah pertanian sudah berpindah tangan ke penduduk kota sehingga kenaikan harga ini memberikan transfer dari konsumen miskin kepada pemilik tanah di kota, (3) berkaitan dengan masalah struktural yang dialami oleh buruh tani dan petani gurem yang mendominasi kelompok miskin di desa, harga beras yang terdistorsi (kenaikan harga yang berlebihan) akan menyebabkan kesempatan untuk menciptakan kegiatan ekonomi lain akan terganggu, (4) dalam masyarakat demokratis, keputusan untuk memberikan subsidi akan ditentukan oleh jumlah suara yang dimiliki oleh kelompok tertentu. Persentase keluarga yang menikmati keuntungan dari kenaikan (distorsi) harga beras makin kecil, sementara konsumen beras pun makin banyak.
Kedua kelompok di atas mempunyai argumen yang kelihatan logis, tetapi tetap saja belum lengkap. Misalnya, kelompok pertama beranggapan bahwa untuk melindungi orang miskin pemerintah dapat memberlakukan kebijakan targeting sehingga kepentingan orang miskin dan petani dapat dipertahankan. Meskipun demikian masih terdapat dua hal vital dalam pengambilan keputusan yang belum diperhitungkan oleh kedua kelompok di atas.
Pertama, dinamika dalam pasar tenaga kerja. Sejauh mana korelasi harga beras dan upah di daerah pedesaan?. Jika harga beras dan upah di pedesaan berkorelasi positif dan korelasi tersebut cukup kuat, argumen kelompok pertama dapat dibenarkan. Tetapi hal ini akan menimbulkan masalah baru, yaitu hilangnya kesempatan penciptaan peluang ekonomi di sektor bukan pangan karena kenaikan upah akibat distorsi harga beras. Usaha penciptaan lapangan kerja di luar kegiatan pangan (non farm activities) telah diyakini sebagai usaha untuk mempercepat proses penurunan tingkat kemiskinan. Jika diamati alokasi waktu petani (buruh tani) rata-rata hanya 10 hari per bulan, dan sisanya dapat digolongkan sebagai waktu luang. Tantangannya adalah bagaimana mengekonomisasikan waktu luang tersebut sehingga menghasilkan tambahan pendapatan bagi mereka. Sebagian dari mereka kemudian bekerja sebagai buruh bangunan, tukang becak dan sebagainya di daerah perkotaan, sedangkan sebagian lainnya bekerja di kegiatan ekonomi lainnya di desa.
Kedua, dalam kaitannya dengan Operasi Pasar Khusus (OPK) dan harga beras di pasar eceran, kelompok pro proteksi bukan tidak menyadari dampak proteksi terhadap orang miskin. Mereka menyarankan agar kelompok miskin diberikan subsidi harga khusus seperti yang dilakukan pemerintah dengan OPKnya. Pembelian beras untuk OPK akan mendorong permintaan beras dan sekaligus pendapatan bagi Bulog. Tetapi muncul argumen yang menyatakan bahwa OPKlah yang telah menyebabkan harga domestik tertekan sehingga argumen dari kelompok anti liberalisasi beras menjadi sia-sia. Argumen yang terakhir ini sebetulnya masih bersifat anecdotal dan perlu dibuktikan lebih dahulu.
Catatan lain yang perlu diangkat adalah: pertama, kenyataan bahwa sensitivitas harga terhadap produksi makin lemah. Ini ditandai dengan makin menurunnya elastisitas harga terhadap jumlah produksi gabah; kedua, perbandingan antar negara menunjukkan bahwa produktivitas per hektar gabah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, jauh lebih tinggi dari produktivitas negara-negara pengekspor beras seperti Thailand dan Vietnam. Ketidakmampuan Indonesia bersaing dengan negara-negara tersebut disebabkan oleh inefisiensi dalam proses produksi gabah menjadi beras. Banyak faktor yang menyebabkan inefisiensi tersebut, antara lain masalah infrastruktur, kondisi pabrik penggilingan padi yang sudah tertinggal teknologinya, kondisi keuangan petani, lahan marginal yang terpaksa menjual gabah sebelum kering untuk mengatasi masalah cashflows dan sebagainya, ketiga, keterbatasan lahan terutama akibat kompetisi penggunaan lahan antara komoditi pertanian satu dengan komoditi pertanian yang lain (di Jawa antara tebu dan padi, di luar Jawa antara padi dan tanaman keras), dan antara kebutuhan lahan untuk pertanian dengan kebutuhan untuk non pertanian, termasuk untuk perumahan dan infrastruktur.
Jadi dalam kasus beras, kita sebaiknya mengkonsentrasikan usaha dan sumber daya kita untuk mengurangi inefisiensi dalam ‘chain production’ gabah dan beras. Jika kita mampu menurunkan tingkat kehilangan 2 – 3 % saja, maka kebutuhan beras impor dapat dipenuhi di dalam negeri dan dilemma beras bisa dikurangi. Kondisi ini masih memenuhi syarat perlu tetapi belum memenuhi syarat cukup bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa atau untuk mengurangi kemiskinan. Oleh karena itu kondisi ini perlu dilengkapi pula dengan upaya untuk mendorong kegiatan non farm karena masa depan petani kita memang bukan di beras.
Harga Dasar Gabah
Barangkali tidak semua menyadari bahwa sejak dua tahun terakhir konstruksi kebijakan harga dasar gabah telah diubah secara halus namun mendasar. Pertama, istilah harga dasar gabah (HDG) diubah menjadi harga dasar pembelian gabah pemerintah (HDPG). Sungguh halus dan cerdik karena perubahan ini sukar disadari oleh orang awam. Namun sesungguhnya perubahan HDG menjadi HDPG sangatlah mendasar. Dengan kebijakan HDPG, pemerintah tidak lagi memiliki kewajiban dan tanggung jawab formal atau juridis untuk menjamin harga dasar gabah pada tingkat harga tertentu, bukan menjamin harga dasar gabah minimum di tingkat petani sebagaimana lazimnya konsep kebijakan HDG.
Kedua, HDPG berlaku di gudang Bulog bukan di tingkat petani seperti lazimnya pada kebijakan HDG. Dengan kebijakan HDPG pemerintah tidak wajib membeli gabah dari petani. Bulog yang menjadi lembaga pemerintah pelaksana pembeli gabah hanya pasif menunggu di gudangnya, tidak perlu harus repot-repot membeli gabah langsung dari petani. Dengan demikian HDPG yang ditetapkan Rp.1.765 per kg GKG bukanlah harga dasar gabah yang diterima petani, melainkan harga dasar gabah yang diterima pedagang rekanan Bulog.
Secara formal-juridis, kebijakan HDG di tingkat petani sesungguhnya sudah tiada. Argumen inilah yang digunakan oleh sebagian pihak pada awal tahun 2002 lalu dalam mensosialisasikan bahwa Bulog tidak lagi bertanggung jawab untuk mempertahankan HDG. Bulog hanya membeli gabah untuk memenuhi kebutuhannya pada harga sesuai HDPG. Bahwa harga gabah anjlok di bawah HDPG adalah masalah lain yang diluar tanggung jawab formal Bulog. Secara formal juridis argumen ini benar, namun secara moral dan misi keberadaan lembaga argumen tersebut tidak benar.
Pada saat ini harga GKP (Gabah Kering Panen): Rp 1.330/kg ditingkat penggilingan oleh mitra kerja pengadaan kepada petani, sedangkan harga GKG (Gabah Kering Giling): Rp 1.765,-/kg pembelian gabah di depan pintu gudang penyimpanan Perum Bulog. Artinya petani belum banyak menikmati kenaikan harga gabah oleh pemerintah. Dilema ini selalu muncul dan tak pernah dapat teratasi, sehingga ada kesan persoaalan perberasan saat ini tidak terlepas dari adanya disharmoni dan tidak terkoordinasinya dengan baik lembaga yang selalu bersentuhan dalam masalah beras terutama antara departemen Perdagangan, Bulog dan Depertemen Pertanian (Suara Merdeka, 8 Pebruari 2006). Kebijakan beras saaat ini terkesan terlalu banyak melibatkan nahkoda, dan ujung-ujungnya hanya menciptakan instabilitas harga beras.
Ada gagasan yang patut dipertimbangkan bahwa sebaiknya pemerintah meroposisi lembaga yang satu ini yaitu Bulog ke dalam sistem atau struktur Depertemen Pertanian menjadi satu Direktorat Jendral tersendiri. Hal ini akan dapat mempermudah dalam satu komando menteri, sehingga memudahkan pemrintah untuk mengeluarkan kebijaksanaan yang lebih terakomodatif dan terkoordinatif. Reposisi ini dalam prakteknya akan menyebabkan kegiatan produksi, distribusi sampai pengamanan stok beras berada dalam satu departemen, sehingga kebijakan import beras misalnya, cukup ditentukan oleh menteri yang bersangkutan. Dengan reposisi Bulog ini, diharapkan tidak terjadi lagi polemik harga dasar beras maupun impor beras yang selalu muncul dan ujung-ujungnya hanya menghabiskan energi bangsa.
Daftar Pustaka
Adiratma, E.Roekasah, Stop Tanam Padi, Penebar Swadaya, Jakarta, 2004
Bahri, Sjaiful, Masa Depan Petani Indonesia Bukan di Beras, dalam Bunga Rampai Ekonomi Beras, LPEM-FEUI, Jakarta, 2001
Basuki, Cuk Eko Haris, Riskan, Ketahanan Pangan Hanya Andalkan Beras, Suara Pembaruan, Jakarta, 17 Oktober 2003
Ikhsan, Mohamad, Kemiskinan dan Harga Beras, dalam Bunga Rampai Ekonomi Beras, LPEM-FEUI, Jakarta, 2001
Ikhsan, Mohamad, Dilema Kebijakan Harga Beras, SMERU No.05: Jan-Mar 2003
Mawardi, Sulton, Persoalan Perberasan di Era Otonomi Daerah, SMERU No.05: Jan-Mar 2003
Priyambada, Agus D, Kebijakan Tarif Impor Beras Indonesia: Berbagai Argumen Pendukung dan Penentang Kenaikan Tarif, SMERU No.05: Jan-Mar 2003.
Suhardi, B dan Sutrisno. 2005. Penelitian Tingkat Harga Gabah dan Beras serta Factor-faktor yang Mempengaruhinya di Kabupaten Pati. Kan. Litbang. Pati, Jateng.
Wicaksono, W. 2006. Balada Beras dan Reposisi Bulog. Suara Merdeka. Semarang. Tanggal 8 Pebruari 2006.
Kamis, 28 Januari 2010
Deskripsi Strategi Managerial
Dalam rangka melakukan bisnis dan menjalankan bisnis perlu adanya management yang baik dan dalam proses management tentu ada kegiatan dalam fungsi management yaitu ;
1. Planning
2. Organizing
3. Directing & Leading
4. Controlling
Untuk mencapai suatu tujuan bisnis yang baik sesuai keinginan maka kita harus melakukan empat kegiatan dari fungsi management tersebut diatas. Agas ke empat fungsi tersebut dapa tberjalan dengan baik maka perlu dengan mengembangkan pemikiran – pemikiran dalam management strategi, yaitu ;
a. Pengembngan planning, visi dan Misi strategis
b. Penetapan sasaran-sasaran dan indikator-indikator kinerja
c. Strategi crafting untuk mencapai hasil yang diharapkan
d. Implementasi dan eksekusi strategi yang baik, efisien dan konsekwentif
e. Melakukan monitoring dan penyesuaian komprehensif, akurat, relevan dengan tujuan jelas dan real time.
Selain itu utk memaksimalkan fungsi management tersebut maka fungsi-fungsi management tersebut dapat dipadukan dengan berbagai fungsi-fungsi management yang lain seperti fungsi fundamental bisnis, fungsi managemtn finance, fungsi management pemasaran, dan lain-lain.
Yaitu dapat inti nya dapat melakukan Planning dengan baik, matang dan tepat sasaran, Menetapkan struktur organisasi yang baik dan profesional, Mengimplementasikan proses kepemimpinan dengan adil dan bujaksana, efisien dan efektif, serta melakukan controlling evaluasi dengan baik dengan cara melakukan audit internal dan audit external yang mungkin biasnnya dilakukan oleh management dan six sigma. Dan tentunya supaya ke empat komponen tersebut berjalan lancar seorang manager harus cerdas dan mampu beradaptasi bisnis dan cepat dalam membaca situasi lingkungan dengan baik dan bijaksana.
Dalam pelaksanaannya perlu adannya sistem Management Proses Bisnis (BPM), yaitu BPM telah dipandang sebagai cara yang tepat untuk meningkatkan performansi perusahaan dengan cara membuat proses-proses kunci berjalan dengan lebih baik. Hal ini termasuk:
• Memodelkan ketergantungan antar pekerja, sistem, dan informasi
• Mengintegrasi dan mengotomatisasi proses-proses yang saling terkait untuk keperluan optimalisasi
• Menkoordinasikan dan mengelola end-to-end, proses-proses yang cross-functional, dan bukan merupakan aplikasi yang bersifat tertutup
• Melakukan perubahan struktur organisasi untuk membantu perkembangan perilaku baru
Teknologi BPM dapat membantu perusahaan berkembang menjadi lebih fleksibel dalam menghadapi dunia yang selalu berubah dengan cepat ini, serta membantu untuk menjadikannya menjadi sebuah perusahaan yang adaptif. Kunci dari perusahaan yang adaptif adalah manajemen yang efektif pada kolaborasi proses bisnisnya. Para pakar sepakat bahwa sebuah sistem BPM haruslah memiliki 4 komponen utama, yaitu:
• Pemodelan, secara grafis mendefinisikan atau mendesain struktur dari setiap proses bisnis
• Pengintegrasian, menghubungkan seluruh elemen pada proses sehingga user dapat saling bertukar informasi dalam rangka mencapai tujuannya
• Pengawasan, pengontrolan performansi dari proses yang tengah berjalan dan performansi dari personil yang terlibat dalam proses tersebut
• Optimalisasi, menganalisa dan memonitor proses bisnis, untuk mencari ketidakefisienan, agar user dapat mengambil tindakan dengan cepat serta disertai kemampuan untuk merubah proses tersebut dalam rangkat peningkatan efektivitas dan efisiensi proses bisnis.
Manajer diharapkan melaksanakan empat tugas mendasar dalam menjalankan bisnis mereka – merencanakan, memimpin, mengelola dan mengontrol. Manajer diharapkan memproduksi hasil, biasanya berhubungan dengan anggaran, pencapaian target, perkiraan bisnis dan perencanaan strategis
— Manajemen merupakan sebuah profesi, dan manajer adalah seharusnya menjadi professional. Banyak manajer membicarakan hal ini, namun banyak di antara mereka tidak melakukannya.
— Manajer seharusnya tidak membuat keputusan berdasarkan pendapat atau pilihan mereka. Mereka harus mengelola keputusan berdasarakan fakta dan bukannya kekuatan kepribadian mereka. Untung-untungan atau kebiasaan tidak dapat menggantikan diagnosa yang benar.
— Perbedaan pendapat, atau bahkan konflik adalah perlu, bahkan diinginkan. Tanpa perbedaan pendapat dan konflik tidak akan ada pengertian. Tanpa pengertian, hanya ada keputusan yang salah.
— Manajer adalah seorang pelayan, Tingkatan (level) tidak menganugerahkan suatu hak khusus atau memberikan kekuasaan. Ini tentang tanggung jawab profesi. Maka yang dilakukan manager dalam fungsi management adalah dengan tip-tips sederhana berikut.
TIPS untuk Manajer yang ingin di garis terdepan ;
mampu menginspirasi melalui antusiasme yang menular.
memiliki standar etika dan integritas yantg tinggi.
memiliki tingkat energi yang besar.
memiliki keberanian dan komitmen.
memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi dan bersikap non konvensional.
berorientasi pada tujuan, namun realistis.
mampu menyusun prioritas.
mendorong kerja sama tim dan tidak mementingkan diri sendiri, upaya yang terorganisasi.
memiliki kepercayaan diri dan memiliki minat tinggi akan pengetahuan.
waspada secara mental dan fisik.
bersikap adil dan menghargai orang lain.
menghargai kreatifitas.
berani dan menikmati pengambilan resiko.
menyusun pertumbuan jangka panjang.
terbuka terhadap tantangan dan pertanyaan.
tidak takut untuk menantang dan mempertanyakan.
mendorong pemahaman yang mendalam untuk banyak orang.
terbuka terhadap ide-ide dan padangan baru.
mengakui kesalahan dan beradaptasi untuk berubah.
Dengan demikian maka ke empat kegiatan fungsi managent tersebut berjalan dengan baik dan selaras aljasih perusahaan akan berkembang dengan baik sesuai kebutuhan perkembangan global.
Rabu, 27 Januari 2010
TEORI PRODUKSI DAN KEGIATAN PERUSAHAAN
DAN KEGIATAN PERUSAHAAN
BENTUK ORGANISASI PERUSAHAAN
• Perusahaan Perseorangan
- Modal, hasil produksi dan penjualannya tidak terlalu besar
- Milik Pribadi
• Firma
- Dimiliki beberapa orang
- Modal cukup besar
- Tanggung Jawab bersama dalam menjalankan perusahaan
• Perseroan Terbatas
- Modal besar
- Pemegang saham merupakan pemilik perusahaan
• Perusahaan Negara
- Pada umumnya berbentuk PT
- Pemilik saham : Pemerintah
- Pengurus perusahaan diangkat dan diberhentikan oleh Pemerintah
• Koperasi
- Didirikan bukan untuk mencari keuntungan tapi untuk kesejahteraan anggota
- Terdiri dari: koperasi konsumsi, koperasi produksi dan koperasi kredit
Tujuan Perusahaan memaksimumkan laba/keuntungan
Cara memaksimumkan keuntungan:
- hasil total penjualan lebih banyak dari pada total ongkos produksi.
- Hasil penjualan marginal = biaya marginal
FUNGSI PRODUKSI
Merupakan hubungan antara faktor-faktor produksi (tenaga kerja, tanah, modal dan keahlian keusahawanan) dan tingkat produksi yang diciptakan.
Q = f (K, L, R, T)
Q : jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis faktor produksi.
K : jumlah modal
L : jumlah tenaga kerja
R : kekayaan alam
T : teknologi yang digunakan
Faktor produksi : input
Jumlah produksi : output
TEORI PRODUKSI DENGAN SATU FAKTOR BERUBAH
Teori produksi sederhana yang menggambarkan tentang hubungan antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan tingkat produksi barang. (Faktor produksi lain : tetap)
Hukum Hasil Lebih yang Semakin Berkurang
(The Law of Diminshing Return)
menyatakan bahwa: apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negatif dan ini menyebabkan pertambahan produksi total semakin lambat dan akhirnya mencapai tingkat yang maksimum kemudian menurun.
PRODUKSI TOTAL, PRODUKSI RATA-RATA DAN PRODUKSI MARGINAL
Produksi Marginal
tambahan produksi yang diakibatkan oleh pertambahan satu tenaga kerja yang digunakan.
MP : produksi marginal
TP : pertambahan produksi total
L : pertambahan tenaga kerja
Produksi Rata-rata
produksi yang secara rata-rata dihasilkan oleh setiap pekerja.
AP : produksi rata-rata
TP : produksi total
L : tenaga kerja
TEORI PRODUKSI DENGAN DUA FAKTOR BERUBAH
Kurva Produksi Sama (Isoquant)
kurva yang menggambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu.
Tabel 4.1
Gabungan Tenaga Kerja dan Modal
Untuk menghasilkan 1000 unit produksi
GABUNGAN
TENAGA KERJA
MODAL
TINGKAT PRODUKSI
A 1 6 1000
B 2 3 1000
C 3 2 1000
D 6 1 1000
Gambar 4.1: Kurva
Produksi Sama
Garis Biaya Sama (Isocost)
garis yang menggambarkan gabungan faktor produksi yang dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah biaya tertentu.
Cth. Upah tenaga kerja Rp. 2.000,-
Biaya modal per unit Rp.4.000,-
Dana yang tersedia Rp. 16.000,-
TC1 menunjukkan gabungan tenaga kerja dan modal yang dapat diperoleh dengan menggunakan dana tersebut.
TC2, TC3, dan TC4 menunjukkan garis biaya sama apabila jumlah dana yang tersedia berturut-turut Rp. 20.000,-, Rp.24.000,- dan Rp.28.000,-.
Gambar 4.2: Garis Biaya Sama
TEORI BIAYA (ONGKOS) PRODUKSI
BIAYA/ONGKOS PRODUKSI:
Semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor produksi dan bahan mentah yang akan digunakan untuk produksi.
Biaya Produksi Jangka Pendek jangka waktu dimana sebagian faktor produksi tidak dapat ditambah jumlahnya
BEBERAPA PENGERTIAN BIAYA PRODUKSI JANGKA PENDEK
1. Biaya Total (TC)
Keseluruahan biaya produksi yang dikeluarkan
TC = TFC + TVC
2. Biaya Tetap Total (TFC)
Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya
3. Biaya Variabel Total (TVC)
Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya
4. Biaya Tetap rata-rata
AFC = TFC/Q
5. Biaya Variabel rata-rata
AVC = TVC/Q
6. Biaya Total rata-rata
AC = TC /Q
7. Biaya Marginal
MCn = TCn – TCn-1 atau TC/ Q
Tabel 4.2
Berbagai Pengertian Biaya Produksi Jangka Pendek
JUMLAH
TK
JUMLAH
PRODUKSI
TFC
Rp
TVC
Rp
TC
Rp
AFC
Rp
AVC
Rp
AC
Rp
MC
Rp
0 0 50.000 0 50.000 - - -
50.000
1 1 50.000 50.000 100.000 50.000 50.000 100.000
25.000
2 3 50.000 100.000 150.000 16.666 33.333 50.000
16.666
3 6 50.000 150.000 200.000 8.333 25.000 33.333
12.500
4 10 50.000 200.000 250.000 5.000 20.000 25.000
10.000
5 15 50.000 250.000 300.000 3.333 16.667 20.000
12.500
6 19 50.000 300.000 350.000 2.632 14.789 17.421
16.667
7 22 50.000 350.000 400.000 2.273 15.908 18.181
25.000
8 24 50.000 400.000 450.000 2.083 16.667 18.750
50.000
9 25 50.000 450.000 500.000 2.000 18.000 20.000
100.000
10 25.5 50.000 500.000 550.000 1.960 19.609 21.569
SYARAT PEMAKSIMUMAN KEUNTUNGAN
1. Memproduksi barang pada tingkat dimana perbedaan antara hasil penjualan total dengan biaya total paling maksimum
TR – TC = maksimum
2. Memproduksi barang pada tingkat dimana perbedaan antara hasil penjualan marginal = biaya marginal.
MR = MC.
BIAYA PRODUKSI JANGKA PANJANG
Dalam jangka panjang, perusahaan dapat menambah semua faktor produksi, sehingga: biaya produksi tidak perlu dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Semua pengeluaran dianggap biaya variabel.
CARA MEMINIMUMKAN BIAYA
Dalam analisis ekonomi kapasitas pabrik digambarkan oleh kurva biaya total rata-rata ( AC = Average Cost).
Pada (gambar 10.3) ditunjukkan tiga kapasitas pabrik yang dapat digunakan oleh produsen, sehingga produsen tersebut dapat memilih penggunaan alat-alat produksi yang memberikan biaya minimum.
KURVA BIAYA TOTAL RATA-RATA JANGKA PANJANG ( KURVA LRAC)
Kurva yang menunjukkan biaya rata-rata minimum untuk berbagai tingkat produksi apabila perusahaan dapat selalu mengubah kapasitas produksinya.
Titik persinggungan dalam kurva-kurva AC tersebut merupakan biaya produksi yang paling optimum/minimum untuk berbagai tingkat produksi yang akan dicapai produsen dalam jangka panjang. (Gambar 10.4)
Selasa, 12 Januari 2010
Kegiatan dalam fungsi management.
Deskripsi kegiatan dalam fungsi management.
Dalam rangka melakukan bisnis dan menjalankan bisnis perlu adanya management yang baik dan dalam proses management tentu ada kegiatan dalam fungsi management yaitu ;
Planning
Organizing
Directing & Leading
Controlling
Untuk mencapai suatu tujuan bisnis yang baik sesuai keinginan maka kita harus melakukan empat kegiatan dari fungsi management tersebut diatas. Agas ke empat fungsi tersebut dapa tberjalan dengan baik maka perlu dengan mengembangkan pemikiran – pemikiran dalam management strategi, yaitu ;
Pengembngan planning, visi dan Misi strategis
Penetapan sasaran-sasaran dan indikator-indikator kinerja
Strategi crafting untuk mencapai hasil yang diharapkan
Implementasi dan eksekusi strategi yang baik, efisien dan konsekwentif
Melakukan monitoring dan penyesuaian komprehensif, akurat, relevan dengan tujuan jelas dan real time.
Selain itu utk memaksimalkan fungsi management tersebut maka fungsi-fungsi management tersebut dapat dipadukan dengan berbagai fungsi-fungsi management yang lain seperti fungsi fundamental bisnis, fungsi managemtn finance, fungsi management pemasaran, dan lain-lain.
Yaitu dapat inti nya dapat melakukan Planning dengan baik, matang dan tepat sasaran, Menetapkan struktur organisasi yang baik dan profesional, Mengimplementasikan proses kepemimpinan dengan adil dan bujaksana, efisien dan efektif, serta melakukan controlling evaluasi dengan baik dengan cara melakukan audit internal dan audit external yang mungkin biasnnya dilakukan oleh management dan six sigma. Dan tentunya supaya ke empat komponen tersebut berjalan lancar seorang manager harus cerdas dan mampu beradaptasi bisnis dan cepat dalam membaca situasi lingkungan dengan baik dan bijaksana.
Dalam pelaksanaannya perlu adannya sistem Management Proses Bisnis (BPM), yaitu BPM telah dipandang sebagai cara yang tepat untuk meningkatkan performansi perusahaan dengan cara membuat proses-proses kunci berjalan dengan lebih baik. Hal ini termasuk:
Memodelkan ketergantungan antar pekerja, sistem, dan informasi
Mengintegrasi dan mengotomatisasi proses-proses yang saling terkait untuk keperluan optimalisasi
Menkoordinasikan dan mengelola end-to-end, proses-proses yang cross-functional, dan bukan merupakan aplikasi yang bersifat tertutup
Melakukan perubahan struktur organisasi untuk membantu perkembangan perilaku baru
Teknologi BPM dapat membantu perusahaan berkembang menjadi lebih fleksibel dalam menghadapi dunia yang selalu berubah dengan cepat ini, serta membantu untuk menjadikannya menjadi sebuah perusahaan yang adaptif. Kunci dari perusahaan yang adaptif adalah manajemen yang efektif pada kolaborasi proses bisnisnya. Para pakar sepakat bahwa sebuah sistem BPM haruslah memiliki 4 komponen utama, yaitu:
Pemodelan, secara grafis mendefinisikan atau mendesain struktur dari setiap proses bisnis
Pengintegrasian, menghubungkan seluruh elemen pada proses sehingga user dapat saling bertukar informasi dalam rangka mencapai tujuannya
Pengawasan, pengontrolan performansi dari proses yang tengah berjalan dan performansi dari personil yang terlibat dalam proses tersebut
Optimalisasi, menganalisa dan memonitor proses bisnis, untuk mencari ketidakefisienan, agar user dapat mengambil tindakan dengan cepat serta disertai kemampuan untuk merubah proses tersebut dalam rangkat peningkatan efektivitas dan efisiensi proses bisnis.
Manajer diharapkan melaksanakan empat tugas mendasar dalam menjalankan bisnis mereka – merencanakan, memimpin, mengelola dan mengontrol. Manajer diharapkan memproduksi hasil, biasanya berhubungan dengan anggaran, pencapaian target, perkiraan bisnis dan perencanaan strategis
— Manajemen merupakan sebuah profesi, dan manajer adalah seharusnya menjadi professional. Banyak manajer membicarakan hal ini, namun banyak di antara mereka tidak melakukannya.
— Manajer seharusnya tidak membuat keputusan berdasarkan pendapat atau pilihan mereka. Mereka harus mengelola keputusan berdasarakan fakta dan bukannya kekuatan kepribadian mereka. Untung-untungan atau kebiasaan tidak dapat menggantikan diagnosa yang benar.
— Perbedaan pendapat, atau bahkan konflik adalah perlu, bahkan diinginkan. Tanpa perbedaan pendapat dan konflik tidak akan ada pengertian. Tanpa pengertian, hanya ada keputusan yang salah.
— Manajer adalah seorang pelayan, Tingkatan (level) tidak menganugerahkan suatu hak khusus atau memberikan kekuasaan. Ini tentang tanggung jawab profesi. Maka yang dilakukan manager dalam fungsi management adalah dengan tip-tips sederhana berikut.
TIPS untuk Manajer yang ingin di garis terdepa ;
mampu menginspirasi melalui antusiasme yang menular.
memiliki standar etika dan integritas yantg tinggi.
memiliki tingkat energi yang besar.
memiliki keberanian dan komitmen.
memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi dan bersikap non konvensional.
berorientasi pada tujuan, namun realistis.
mampu menyusun prioritas.
mendorong kerja sama tim dan tidak mementingkan diri sendiri, upaya yang terorganisasi.
memiliki kepercayaan diri dan memiliki minat tinggi akan pengetahuan.
waspada secara mental dan fisik.
bersikap adil dan menghargai orang lain.
menghargai kreatifitas.
berani dan menikmati pengambilan resiko.
menyusun pertumbuan jangka panjang.
terbuka terhadap tantangan dan pertanyaan.
tidak takut untuk menantang dan mempertanyakan.
mendorong pemahaman yang mendalam untuk banyak orang.
terbuka terhadap ide-ide dan padangan baru.
mengakui kesalahan dan beradaptasi untuk berubah.
Dengan demikian maka ke empat kegiatan fungsi managent tersebut berjalan dengan baik dan selaras aljasih perusahaan akan berkembang dengan baik sesuai kebutuhan perkembangan global.
किस में नो ??!!

Kiss me now ??!!
Hari gini pacaran cuman gandengan tangan ma makan makan doank, rasanya kurang lengkap tanpa ciuman.
Ciuman merupakan bukti kasih sayang atau ekspresi kebahagiaan yang dalam (katenye). Tiap ketemu cipika-cipiki dah merupakan adat bagi para kawula muda yang sedang memadu cinta (bukan di tempat umum meski terkadang di tempat umum juga sering), namun untuk bercumbu (aiiiih…) mending ditunda dulu dah soalnya banyak negatifnya. Kalo cium pipi sih paling cuman tertular ketombe doank, tapi kalau ciuman mulut banyak sisi negatifnya antara lain Hepatitis.
Penelitian membuktikan bahwa banyak penyakit mulai ringan sampai berat yang menular melalui air liur. Untuk itu sebelum bercumbu, pastikan pasangan kita bebas dari segala virus, rajin gosok gigi (minimal 10 x sehari) dan tidak jorok. Kira-kira penyakit apa saja yang bisa menular melalui air liur? klo ada tambahan ya tambah bagus.
1.Herpes Simplex Herpes simplex adalah adanya bintik-bintik kecil, bisa satu atau sekumpulan, yang berisi cairan, dan jika pecah bisa menyebabkan peradangan (hiiiiiiiack). Bintik-bintik ini kebanyakan muncul di sekitar bibir walaupun tidak menuntut kemungkinan di wajah juga. Sebelum muncul bintik-bintik, daerah bibir terasa geli. Penyakit ini menular selama bintik-bintik tersebut belum kering (masih berisi cairan) karena cairan yang ada di dalam bintik tersebut adalah istana bagi virus herpes. Virus herpes bisa menyebar ke seluruh tubuh kita, seperti di jari-jari, di mata, di daerah kemaluan, bahkan bisa juga menyerang otak jika kita tertular oleh virus tersebut. Gejala herpes dimulai dengan demam seperti flu, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kelenjar limfe, rasa letih dan tidak enak badan. Rasa geli pada daerah kontak juga bisa muncul sebelum timbulnya bintik-bintik. Jika bintik-bintik sudah timbul, daerah sekitar bintik tersebut akan terasa sangat lunak. Dan tergantung dimana bintik-bintik itu berada, si korban bisa merasa kesulitan berjalan atau nyeri saat buang air kecil. Untuk pencegahannya, jagalah daerah bintik tersebut tetap bersih dan kering, dapat dilakukan pembersihan daerah sekitar dengan saline (larutan garam) dan sesudahnya harus segera dikeringkan. Pokoknya jaga jangan sampai daerah sekitar bintik lembab. Selanjutnya periksa kedokter aja biar lebih aman. Jadi, jika ingin melakukan percumbuan, lihat dan pastikan bahwa disekitar bibir pasangan kita tidak terdapat bintik-bintik. Jika terdapat bintik-bintik, ajak pasangan kita ke dokter untuk diperiksa. Jika hasil pemeriksaan tidak berbahaya, ya segera LANJUTKAN.
2.Impetigo Hati-hati sama si Impetigo ini, Do'i sangat menular serta muncul di sekitar mulut dan juga hidung. Biasanya cuman anak-anak, tapi orang dewasa juga bisa terinfeksi. Penyebabnya adalah bakteri Streptococcus atau Staphylococcus yang masuk melalui kulit yang luka, misalnya akibat luka teriris atau adanya eksim terbuka pada daerah tersebut. Gejalanya adalah kulit yang memerah di sekitar mulut, dengan bintik-bintik kecil berisi cairan di permukaannya. Jika bintik tersebut pecah, akan muncul cairan berwarna keemasan yang akan menyebar ke sekitarnya. Pada beberapa kasus, korban impetigo bisa mengalami pembengkakan kelenjar limfe disertai dengan demam. Serta pada kasus yang lebih menakutkan, bisa terjadi komplikasi misalnya septicaemia, atau keracunan darah. Karena impetigo sagat cepat penyebarannya, maka langkah terbaik adalah LEBIH CEPAT LEBIH BAIK kita berkonsultasi dengan dokter jika terjadi gejal-gejala terinfeksi. Infeksinya sendiri bisa diatasi dengan antibiotic baik oral maupun topical (krim), dan pada penggunaan obat yang tepat, penyakit ini dapat sembuh dalam waktu seminggu. Cairan dari bintik-bintik yang pecah dapat kita atasi dengan membasuhnya perlahan dengan sabun dan air, lalu dikeringkan. Yang terpenting adalah memperhatikan kebersihan. Korban tidak boleh berbagi handuk atau lap wajah dengan orang lain, dan tidak boleh menyentuh daerah yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran infeksi bakteri. Wah, gak kebayang kalau sampek Impetigo menyapa kita. Satu buah jerawat aja bisa bikin puyeng, apa lagi si Impetigo. Jangan sampek deh...
3.Infectious Mononucleosis (gondongan?) Penyakit ini bisa memperbesar leher kita (bengkak seperti bola), bisa ngebayanginkan kalau leher kita ditempeli bola? Ya sepeti itu wujudnya. Penyakit ini bisa dibilang benar-benar 'kissing banget gitu loh…' karena ditularkan melalui air liur. Awalnya banyak diderita oleh remaja, karena pada usia ini, system kekebalan tubuh bekerja paling giat. Walaupun banyak diderita oleh anak muda, namun sesungguhnya usia berapa pun memiliki resiko tertular penyakit ini. Infectious mononucleosis, atau demam kelenjar (glandular fever) disebabkan oleh virus Epstein-Barr. Virus ini menyerang sel-sel darah putih, atau limfosit tubuh, yang merupakan faktor penting dalam system kekebalan tubuh. Masa inkubasi virus ini tidak tentu, namun diperkirakan antara empat sampai lima minggu. Gejala-gejala yang dirasakan adalah demam, nyeri tenggorokan, hilangnya nafsu makan dan juga gejala-gejala lain yang mirip flu. Sering kali terdapat pembengkakan kelenjar limfe yang melebar, karenanya disebut demam kelenjar, meliputi leher, ketiak, dan tenggorokan. Pembengkakan tonsil juga dapat menyebabkan korban sulit menelan makanan, dan pada beberapa kasus yang lebih langka, bahkan dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Biasanya akan timbul juga kerusakan hati ringan yang dapat menyebabkan sakit kuning. Jika mata dan kulit si korban berwarna kekuningan, artinya penyakit ini menular sampai ke hati. Diagnosa-diagnosa penyakit ini biasanya terlihat jelas dari gejala-gejala yang timbul dan kemudian diperjelas melalui tes darah. Walau kedengarannya menyeramkan, biasanya hampir semua korban dapat sembuh setelah empat sampai enam minggu tanpa pengobatan apapun. Korban disarankan untuk istirahat total dan makan makanan yang bergizi, serta menghindari alkohol. System kekebalan tubuh alamiah si korban-lah yang akan memusnahkan virus tersebut. Kira-kira dua sampai tiga bulan setelah masa penyembuhan, korban biasanya merasa kekurangan energi, dengan gejala umum seperti kelelahan atau selalu ingin tidur sepanjang waktu.
4. Hepatitis B Virus hepatitis B terutama menyerang hati (jangan khawatir, tidak menyebabkan patah hati kok… jika gak ketahuan). Tetapi virus ini juga menyebar melalui cairan tubuh seperti air liur dan sekresi cairan saat berhubungan seks, dan juga melalui darah. Masa inkubasi virus Hepatitis B kira-kira dua sampai enam minggu sebelum timbulnya gejala-gejala, seperti hilangnya nafsu makan, mual dan demam, yang disertai dengan sakit kuning. Nyeri di persendian juga bisa muncul bersamaan dengan gejala-gejala tersebut. Hepatitis didiagnosa melalu tes darah. Tes ini juga bisa menunjukkan apakah seseorang menderita hepatitis (infectious) atau telah berkembang ke fasa 'carrier'. Artinya walaupun virus tersebut masih berkembang dalam tubuhnya dan berpotensi menularkan pada orang lain, namun virus tersebut tidak menyerang tubuhnya sendiri. Untuk pencegahan, vaksinasi adalah perlindungan yang terpenting. Dalam satu paket berisi tiga kali injeksi dapat memberikan perlindungan sampai 5 tahun. Pencegahan lainnya misalnya melalukan seks secara aman, tidak bertukar jarum suntik, dan tidak berbagi sikat gigi atau pisau pencukur yang sama dengan orang lain. Memang kebanyakan orang merasa baik-baik saja walaupun terinfeksi hepatitis B, tetapi lebih dari 10 % penderita dapat berkembang menjadi infeksi kronis yang bisa menyebabkan sirosis hati dan juga kanker hati. Serem juga ya, harus mikir-mikir dulu sebelum melakukannya agar aman. Terus punya barang-barang kebersihan pribadi seperti sabun, handuk, sikat gigi, dan sebagainya juga sangat penting dan perlu perhatian khusus. Kabar AIDS gimana? Menurut informasi, AIDS tidak menular melalui air liur meskipun virus HIV dapat ditemukan pada air liur (kok bisa???). Hal ini disebabkan karena HIV hanya bisa menggunakan transportasi berupa darah. Tapi jika waktu bercumbu menimbulkan luka berdarah karena gigitan, tidak menuntut kemungkinan si HIV ini akan berpindah kontrakkan ke tubuh kita. Oleh sebab itu kita harus waspada terhadap pasangan kita karena Korban HIV itu tidak kelihatan secara fisik.
Bukanya nakut-nakuti, cuman sedia payung sebelum hujan itu lebih baik dari pada nanti kehujanan. Udah gitu dimarahin ortu lagi… sebel jadinya cuman gara-gara keinginan sesaat. Udah gitu, percumbuan biasanya merupakan pintu jurang ke Pergaulan bebas. Bisa-bisa kita punya keturunan sebelum waktunya, so mending untuk percumbuan ditunda dulu aja lah sampai sang pendamping hidup datang meminang kita…
Hari gini pacaran cuman gandengan tangan ma makan makan doank, rasanya kurang lengkap tanpa ciuman.
Ciuman merupakan bukti kasih sayang atau ekspresi kebahagiaan yang dalam (katenye). Tiap ketemu cipika-cipiki dah merupakan adat bagi para kawula muda yang sedang memadu cinta (bukan di tempat umum meski terkadang di tempat umum juga sering), namun untuk bercumbu (aiiiih…) mending ditunda dulu dah soalnya banyak negatifnya. Kalo cium pipi sih paling cuman tertular ketombe doank, tapi kalau ciuman mulut banyak sisi negatifnya antara lain Hepatitis.
Penelitian membuktikan bahwa banyak penyakit mulai ringan sampai berat yang menular melalui air liur. Untuk itu sebelum bercumbu, pastikan pasangan kita bebas dari segala virus, rajin gosok gigi (minimal 10 x sehari) dan tidak jorok. Kira-kira penyakit apa saja yang bisa menular melalui air liur? klo ada tambahan ya tambah bagus.
1.Herpes Simplex Herpes simplex adalah adanya bintik-bintik kecil, bisa satu atau sekumpulan, yang berisi cairan, dan jika pecah bisa menyebabkan peradangan (hiiiiiiiack). Bintik-bintik ini kebanyakan muncul di sekitar bibir walaupun tidak menuntut kemungkinan di wajah juga. Sebelum muncul bintik-bintik, daerah bibir terasa geli. Penyakit ini menular selama bintik-bintik tersebut belum kering (masih berisi cairan) karena cairan yang ada di dalam bintik tersebut adalah istana bagi virus herpes. Virus herpes bisa menyebar ke seluruh tubuh kita, seperti di jari-jari, di mata, di daerah kemaluan, bahkan bisa juga menyerang otak jika kita tertular oleh virus tersebut. Gejala herpes dimulai dengan demam seperti flu, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kelenjar limfe, rasa letih dan tidak enak badan. Rasa geli pada daerah kontak juga bisa muncul sebelum timbulnya bintik-bintik. Jika bintik-bintik sudah timbul, daerah sekitar bintik tersebut akan terasa sangat lunak. Dan tergantung dimana bintik-bintik itu berada, si korban bisa merasa kesulitan berjalan atau nyeri saat buang air kecil. Untuk pencegahannya, jagalah daerah bintik tersebut tetap bersih dan kering, dapat dilakukan pembersihan daerah sekitar dengan saline (larutan garam) dan sesudahnya harus segera dikeringkan. Pokoknya jaga jangan sampai daerah sekitar bintik lembab. Selanjutnya periksa kedokter aja biar lebih aman. Jadi, jika ingin melakukan percumbuan, lihat dan pastikan bahwa disekitar bibir pasangan kita tidak terdapat bintik-bintik. Jika terdapat bintik-bintik, ajak pasangan kita ke dokter untuk diperiksa. Jika hasil pemeriksaan tidak berbahaya, ya segera LANJUTKAN.
2.Impetigo Hati-hati sama si Impetigo ini, Do'i sangat menular serta muncul di sekitar mulut dan juga hidung. Biasanya cuman anak-anak, tapi orang dewasa juga bisa terinfeksi. Penyebabnya adalah bakteri Streptococcus atau Staphylococcus yang masuk melalui kulit yang luka, misalnya akibat luka teriris atau adanya eksim terbuka pada daerah tersebut. Gejalanya adalah kulit yang memerah di sekitar mulut, dengan bintik-bintik kecil berisi cairan di permukaannya. Jika bintik tersebut pecah, akan muncul cairan berwarna keemasan yang akan menyebar ke sekitarnya. Pada beberapa kasus, korban impetigo bisa mengalami pembengkakan kelenjar limfe disertai dengan demam. Serta pada kasus yang lebih menakutkan, bisa terjadi komplikasi misalnya septicaemia, atau keracunan darah. Karena impetigo sagat cepat penyebarannya, maka langkah terbaik adalah LEBIH CEPAT LEBIH BAIK kita berkonsultasi dengan dokter jika terjadi gejal-gejala terinfeksi. Infeksinya sendiri bisa diatasi dengan antibiotic baik oral maupun topical (krim), dan pada penggunaan obat yang tepat, penyakit ini dapat sembuh dalam waktu seminggu. Cairan dari bintik-bintik yang pecah dapat kita atasi dengan membasuhnya perlahan dengan sabun dan air, lalu dikeringkan. Yang terpenting adalah memperhatikan kebersihan. Korban tidak boleh berbagi handuk atau lap wajah dengan orang lain, dan tidak boleh menyentuh daerah yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran infeksi bakteri. Wah, gak kebayang kalau sampek Impetigo menyapa kita. Satu buah jerawat aja bisa bikin puyeng, apa lagi si Impetigo. Jangan sampek deh...
3.Infectious Mononucleosis (gondongan?) Penyakit ini bisa memperbesar leher kita (bengkak seperti bola), bisa ngebayanginkan kalau leher kita ditempeli bola? Ya sepeti itu wujudnya. Penyakit ini bisa dibilang benar-benar 'kissing banget gitu loh…' karena ditularkan melalui air liur. Awalnya banyak diderita oleh remaja, karena pada usia ini, system kekebalan tubuh bekerja paling giat. Walaupun banyak diderita oleh anak muda, namun sesungguhnya usia berapa pun memiliki resiko tertular penyakit ini. Infectious mononucleosis, atau demam kelenjar (glandular fever) disebabkan oleh virus Epstein-Barr. Virus ini menyerang sel-sel darah putih, atau limfosit tubuh, yang merupakan faktor penting dalam system kekebalan tubuh. Masa inkubasi virus ini tidak tentu, namun diperkirakan antara empat sampai lima minggu. Gejala-gejala yang dirasakan adalah demam, nyeri tenggorokan, hilangnya nafsu makan dan juga gejala-gejala lain yang mirip flu. Sering kali terdapat pembengkakan kelenjar limfe yang melebar, karenanya disebut demam kelenjar, meliputi leher, ketiak, dan tenggorokan. Pembengkakan tonsil juga dapat menyebabkan korban sulit menelan makanan, dan pada beberapa kasus yang lebih langka, bahkan dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Biasanya akan timbul juga kerusakan hati ringan yang dapat menyebabkan sakit kuning. Jika mata dan kulit si korban berwarna kekuningan, artinya penyakit ini menular sampai ke hati. Diagnosa-diagnosa penyakit ini biasanya terlihat jelas dari gejala-gejala yang timbul dan kemudian diperjelas melalui tes darah. Walau kedengarannya menyeramkan, biasanya hampir semua korban dapat sembuh setelah empat sampai enam minggu tanpa pengobatan apapun. Korban disarankan untuk istirahat total dan makan makanan yang bergizi, serta menghindari alkohol. System kekebalan tubuh alamiah si korban-lah yang akan memusnahkan virus tersebut. Kira-kira dua sampai tiga bulan setelah masa penyembuhan, korban biasanya merasa kekurangan energi, dengan gejala umum seperti kelelahan atau selalu ingin tidur sepanjang waktu.
4. Hepatitis B Virus hepatitis B terutama menyerang hati (jangan khawatir, tidak menyebabkan patah hati kok… jika gak ketahuan). Tetapi virus ini juga menyebar melalui cairan tubuh seperti air liur dan sekresi cairan saat berhubungan seks, dan juga melalui darah. Masa inkubasi virus Hepatitis B kira-kira dua sampai enam minggu sebelum timbulnya gejala-gejala, seperti hilangnya nafsu makan, mual dan demam, yang disertai dengan sakit kuning. Nyeri di persendian juga bisa muncul bersamaan dengan gejala-gejala tersebut. Hepatitis didiagnosa melalu tes darah. Tes ini juga bisa menunjukkan apakah seseorang menderita hepatitis (infectious) atau telah berkembang ke fasa 'carrier'. Artinya walaupun virus tersebut masih berkembang dalam tubuhnya dan berpotensi menularkan pada orang lain, namun virus tersebut tidak menyerang tubuhnya sendiri. Untuk pencegahan, vaksinasi adalah perlindungan yang terpenting. Dalam satu paket berisi tiga kali injeksi dapat memberikan perlindungan sampai 5 tahun. Pencegahan lainnya misalnya melalukan seks secara aman, tidak bertukar jarum suntik, dan tidak berbagi sikat gigi atau pisau pencukur yang sama dengan orang lain. Memang kebanyakan orang merasa baik-baik saja walaupun terinfeksi hepatitis B, tetapi lebih dari 10 % penderita dapat berkembang menjadi infeksi kronis yang bisa menyebabkan sirosis hati dan juga kanker hati. Serem juga ya, harus mikir-mikir dulu sebelum melakukannya agar aman. Terus punya barang-barang kebersihan pribadi seperti sabun, handuk, sikat gigi, dan sebagainya juga sangat penting dan perlu perhatian khusus. Kabar AIDS gimana? Menurut informasi, AIDS tidak menular melalui air liur meskipun virus HIV dapat ditemukan pada air liur (kok bisa???). Hal ini disebabkan karena HIV hanya bisa menggunakan transportasi berupa darah. Tapi jika waktu bercumbu menimbulkan luka berdarah karena gigitan, tidak menuntut kemungkinan si HIV ini akan berpindah kontrakkan ke tubuh kita. Oleh sebab itu kita harus waspada terhadap pasangan kita karena Korban HIV itu tidak kelihatan secara fisik.
Bukanya nakut-nakuti, cuman sedia payung sebelum hujan itu lebih baik dari pada nanti kehujanan. Udah gitu dimarahin ortu lagi… sebel jadinya cuman gara-gara keinginan sesaat. Udah gitu, percumbuan biasanya merupakan pintu jurang ke Pergaulan bebas. Bisa-bisa kita punya keturunan sebelum waktunya, so mending untuk percumbuan ditunda dulu aja lah sampai sang pendamping hidup datang meminang kita…